Wisata Sejarah Di Benteng Vredeburg Jogja


Mau tanya tentang paket wisata low budget dijogja? klik kontak wa dibawah ini:
 Chat Whatsapp 62816683539 

____________________________________________________________

Jalan-jalan ke kota Jogja tentu saja kita akan menemukan banyak obyek wisata yang dapat kita kunjungi. Sebut saja daerah yang berada di pusat Kota Jogja, tentu kita akan menemukan beberapa objek wisata yang menarik untuk kita kunjungi dan salah satunya adalah Benteng Vreduberg.

Memasuki depan pintu gerbang benteng Vredeburg Jogja, kita akan disuguhkan sebuah pemandangan pintu gerbang yang berasal dari jaman penjajahan Belanda pada masa lalu. Bentuk bangunan dengan tembok tembal di depannya kita dapat menemukan dua buah pasang tiang pilar yang berada di sisi sebalah kanan dan kiri yang dapat kita jumpai pada saat memasuki area Museum Benteng Vredeburg.

Setelah sampai di dalam kawasan wisata benteng Vredeburg Jogja, kita akan menemukan bangunan-bangunan tua bergaya arsitektur jaman Belanda. Bangunan-bangunan yang memiliki tiang-tiang penyanggah besar, konon bangunan ini memiliki catatan historis yang dibangun pada tahun 1760-1765. Dan lokasi tanah ini status tanahnya pada waktu itu milik Keraton Yogyakarta, namun penggunaannya di bawah pengawasan Gubernur dari Direktur pantai utara Jawa yang bernama Nicolas Harting.

Sebagai bahan informasi tambahan yang Direktori Wisata terima di lokasi. Museum Benteng Vredeburg Jogja merupakan  museum perjuangan khusus sejarah nasional bangsa Indonesia. Di mana lokasi ini menjadi  salah satu tujuan destinasi wisata edukasi yang memuat tentang seni, budaya, dan ilmu pengetahuan tentang sejarah. Tidaklah heran bila di dalam kawasan ini kita banyak menemukan patung diorama yang melambangkan kisah perjuangan bangsa Indonesia pada saat melawan penjajah pada saat waktu itu. Dan kita bisa menuangkan ekspresi sambil foto bersama dengan patung-patung yang berada di area tengah Museum Benteng Vredeburg.


Menurut catatan informasi maksud dan tujuan dibangunnya benteng ini waktu itu dengan alasan untuk menjaga keamanan Keraton Yogyakarta dan daerah sekitarnya, namun di balik maksud semua itu panjajah Belanda pada waktu itu memiliki maksud untuk mempermudah pengontrolan segala aktifitas perkembangan yang terjadi di dalam Keraton.

Konon menurut informasi yang diterima. Benteng ini dulunya pertama kali dibangun keadaanya tidak seperti sekarang, dan bentuk bangunnya sangat sederhana sekali, yang mana temboknya hanya terbuat dari tanah yang dan diperkuat dengan tiang-tiang penyanggah dari kayu-kayu pohon kelapa dan aren. Dan bangunan ini di dalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap yang terbuat dari ilalang saja.

Keseluruhan dari bangunan ini di bangun dengan bentuk bujursangkar, dimana keempat sudutnya bila kita perhatikan seperti tempat bekas penjagaan, tempat ini disebut dengan “seleka” atau “bastion”. Oleh Sultan ke empat sudut tersebut diberi nama Jaya Wisesa yang memiliki arti sebagai sudut barat laut; Jaya Purusa yang berarti sudut timur laut; Jaya Prakosaningprang yang berarti sudut barat daya; dan Jaya Prayitna yang berarti sudut tenggara.

Pada masa kepemimpinan Gubernur Belanda yang dipimpin oleh W.H Van Ossenberg, benteng dibangun lebih permanen. Hal ini agar terlihat lebih gagah dan terjamin keamanannya. Danpada tahun 1767 pembangunan benteng Vreduberg mulai dilaksanakan di bawah pengawasan seorang ahli arsitek dari Belanda bernama Ir. Frans Haak, dan baru selesai pada tahun 1787.

Proses pembangunan benteng ini sempat terlihat sangat lamban, hal ini dikarenakan pada waktu tersebut Sultan Hamengkubuwono I sedang disebukkan dengan proses pembangunan Keraton. Dan setelah pembangunan benteng selesai barulah diberi nama “Restenburg” yang berarti benteng peristirahatan.
Dengan berjalannya waktu, benteng ini berdiri kokoh, hingga pada tahun 1867 di Jogjakarta terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat, sehingga mengakibatkan rusaknya sebagian bangunan benteng. Setelah dilakukan perbaikan pada bangunan benteng yang rusak akibat gempa, nama benteng dirubah menjadi “Vredeburg” yang memiliki arti benteng perdamaian.


Dari pengamatan di lokasi Benteng Vredeburg Jogja, kawasan ini memiliki fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan seni, budaya, serta ilmu pengetahuan seperti ruang pengenalan atau yang disebut dengan ruang “Mini Studio”. Melalui ruangan  ini kita dapat menyaksikan film dokumenter melalui multimedia video selama durasi 10-15 menit. Selain itu kita juga dapat mengunjungi tempat ruangan yang memuat diorama 1 dan 2 yang dilengkapi dengan sarana media interaktif yang berupa media layar sentuh. Di sini kita dapat menggunakan media ini untuk mengetahui sejarah suatu peristiwa secara lebih luas.

Untuk megunjungi tempat wisata sejarah di Benteng Vrendeburg Jogja, kita bisa melihat jarah jalan di dalam peta agar mempermudah anda sam[ai di lokasi, selanjutnya kita bisa mengunjungi tempat wisata Indonesia lainnya untuk menambah informasi tentang destinasi wisata Inonesia yang akan menjadi pilihan liburan anda bersama keluarga setelah dar Benteng Vredeburg Jogja.

Untuk Jam Buka Museum Benteng Vredeburg Jogja

Selasa – Jum’at    :08.00 – 16.00 WIB
Sabtu – Minggu   : 08.00 – 17.00 WIB
Senin TUTUP
Hari Libur Nasional tetap Buka Museum Benteng Vredeburg.

Untuk harga Tiket Masuk Museum Benteng Vredeburg Jogja

Harga Tiket Masuk Museum benteng Vredeburg Untuk Wisatawan Domestik
Dewasa Perorangan         : Rp. 2.000,- / orang
Dewasa Rombongan        : Rp. 1.000,- / orang
Anak-anak Perorangan   : Rp. 1.000,- / orang
Anak-anak Rombongan  : Rp.     500.-/ orang

Harga Tiket Masuk Museum Benteng Vredeburg Untuk Wisatawan Mancanegara
Dewasa dan Anak-anak  : Rp.10.000,- / orang.